Tampilkan postingan dengan label FamilY. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label FamilY. Tampilkan semua postingan

Senin, 03 Desember 2012

Ibu, Alasanku Untuk Selalu Bersyukur Setiap Hari..


Ibu, semakin lama aku semakin mengerti cintamu yang begitu besar untukku. Semakin dewasa semakin ingin kuberbakti untukmu, aku rasa semua baktiku pun tak akan cukup untuk membalas jasa-jasamu.

Ibu, aku tidak tahu bagaimana engkau hamil dan melahirkan aku, yang aku tahu hanya cerita darimu, 24 jam his persalinan dilanjutkan dengan kala 2 yang lama karna saat itu ibu masih gravida 1. Aku mulai membayangkan bagaimana perasaanmu saat aku menjadi dokter muda dan memasuki bagian obgyn (kebidanan dan kandungan). Disitu aku mengerti bagaimana rasanya pasangan muda mengetahui bahwa sang istri sedang hamil anak pertama. Euphoria yang membuncah. Kemudian dilanjutkan dengan kontrol kehamilan berkala, rata-rata setiap kali antenatal care (pemeriksaan kehamilan) sang ibu selalu didampingi oleh suami. Disitu dapat dilihat, betapa ayah pun selalu ingin tahu bagaimana perkembangan buah cintanya, sejak dalam kandungan, bahkan tak jarang para suami yang banyak bertanya dan ingin tahu lebih dalam mengenai kondisi ibu dan janin. Kemudian tibalah saat sang ibu melahirkan. Anak pertama dari ibu gravid pertama, rata-rata mengalami kala 1 dan 2 yang lama. Kala 1 adalah proses pembukaan jalan lahir, kontraksi rahim (his), dan penurunan bayi dari rahim ke jalan lahir. Yang membuat ibu-ibu tersiksa adalah saat his terjadi, sakitnya luar biasa, banyak ibu yang teriak-teriak sampai berkeringat sangking sakitnya. Dan his terjadi semakin lama semakin kuat, mulai 1x setiap 10 menit sampai 5x dalam 10 menit. Dan lamanya his juga bervariasi, ada yang hanya 10 atau 20 detik, namun semakin besar pembukaan his akan semakin lama, bahkan mencapai 60-90 detik setiap his.

Kala 1 lamanya bisa bervariasi, ada yang hanya 2 jam ada juga yang bisa sampai 2 hari, tergantung oleh beberapa faktor, salah satunya hamil anak pertama. Jadi, bisa aku bayangkan ibuku mules menahan sakit untuk melahirkan aku selama 24 jam. Sudah pasti tidak bisa tidur, bahkan untuk berbaring pun gelisah, kanan kiri terlentang, semua posisi sudah dicoba namun tetap saja mules itu terasa sekali. His akan terasa sampai akhirnya ada dorongan untuk mengejan seperti ingin BAB dan jalan lahir mulai terbuka. Pertama kali aku menolong persalinan adalah pasien muda usia 17 tahun di RSKIA Astana anyar. Sungguh vagina nya masih kaku, sampai akhirnya harus digunting untuk menghindari robekan berlebihan (episiotomy). Kekuatan yang diperlukan untuk mengejan luar biasa harus kuat, supaya kepala bayi bisa keluar dengan lancar. Apalagi dengan ibu yang kehabisan tenaga karena menahan sakit selama his. Pada anak pertama persalinan pengeluaran bayi bisa sampai 1 jam. Namun Alhamdulillah setelah itu bayi keluar dengan selamat, ibu dijahit pada luka episiotomi, kemudian setelah selesai bayi langsung diberikan ke gendongan ibu. Disitu terasa sekali betapa manisnya keluarga muda yang baru kedatangan anak pertamanya ke dunia. Dimulai dengan ayahnya yang membisikkan azan di telinga kanan dan iqamah di telinga kirinya, kemudian anak yang mulai menyusui di payudara ibu, sambil tangan ayah dan ibu nya tak henti-hentinya mengusap kepala anak sambil terlihat raut bahagia ayah dan ibu. Aku membayangkan begini rasanya saat aku lahir, anak pertama dari pasangan yang baru menikah. Cucu pertama dari pihak ibu. Waah, sudah pasti banyak harapan dan doa dari ayah dan ibu kepadaku, bayi perempuan mungil dengan berat 2400 gram dan panjang 47 cm.

Ibuku bukan orang dengan latar belakang medis, apalagi ayah. Mereka orang awam yang membesarkan anak dengan pengalaman mereka mengurus adik-adik, belajar dari kakek nenek, dan mengembangkannya sendiri agar anaknya tumbuh cerdas dan sehat. Aku sejak lahir memang kecil, sampai saat ini pun masih sama, kecil dan kurus (baca : langsing :p). Namun menurut ibu aku tidak pernah sakit. Hanya sekali dua kali dalam 6 bulan-1 tahun dan itu hanya batuk pilek panas biasa. Dari perkembangan milestone, aku termasuk anak yang cepat ngomong, belum 1 tahun sudah bisa ngomong 2-3 kata, belum usia 2 tahun sudah ngomong lancar dan bisa diajak ngobrol dan menuruti apa kata-kata ibu. Namun untuk motorik kasar aku cukup lambat, usia 1,5 tahun baru bisa jalan. Karena ibuku cerdas dan beliau melihat potensi anaknya, maka beliau mengajarkan aku banyak gambar, huruf, dan hitung-hitungan, sehingga sebelum masuk TK aku sudah lancar membaca dan berhitung. Dulu ayah dan ibu masih membangun rumah tangganya, jadi belum mampu untuk menyekolahkan aku ke play grup, les musik, atau les balet. Apalagi ketika aku berumur 4 tahun ibuku melahirkan adikku. Namun dengan keterbatasan pun ibu bisa mendidik aku sampai sekarang.

Ketika aku masuk SD, mulai lah ibu memasukkan aku les berenang. Tujuannya sebenarnya supaya aku ada aktivitas olahraga dan supaya aku berani. Dari tujuan itu saja aku sudah bisa mencetak beberapa prestasi di bidang renang, medali pada perlombaan renang dan loncat indah. Selain itu ibu juga memasukkanku ke TPA yang tak jauh dari rumah, pulang pergi memakai angkutan becak. Setiap liburan kenaikan kelas, ibu selalu memberikan buku-buku pelajaran untuk kelas selanjutnya. Ibu selalu memberi aku PR sehingga aku bisa menghabiskan buku-buku itu selama liburan. Kebetulan jaman dulu kan liburnya lama, 1 bulan, dan orangtuaku bukan orang yang mampu untuk mengajak jalan-jalan ke luar negeri jika liburan panjang, kami biasanya liburan sambil pulang ke Sukabumi atau Belitang 1 kali dalam setahun setiap lebaran. Kalau ke Sukabumi kadang mampir ke taman mini, dufan, taman safari, dan tempat-tempat rekreasi lain yang terkenal (saat itu belum banyak tempat rekreasi). Kembali ke buku pelajaran, jadi seperti itulah cara ibuku menyuruh belajar, jadi ketika aku masuk sekolah, aku sudah menguasai semua pelajaran, maka tidak heran aku selalu juara satu di sekolah selama SD (walaupun pernah kalah beberapa kali, bisa dihitung menggunakan 1 tangan :p).

Selain prestasi di sekolah, ibu selalu mendorong aku untuk ikut lomba-lomba menggambar, mewarnai, tujuannya ya itu, agar aku berani. Lalu saat kelas 5 aku juga diikutkan les menari, dan sampai saat ini aku sangat mencintai tarian tradisional Indonesia dan aku hapal beberapa tarian Lampung, jawa barat, dan Bali. Satu lagi yang aku kuasai adalah sempoa, aku mulai les saat kelas 5 SD di sempoa Indonesia pratama (SIP), kebetulan ada di kompleks rumahku. Aku biasa kesana dengan sepeda atau berjalan kaki. Ilmu sempoa ini juga bermanfaat ketika aku di SMP dan SMA sehingga aku jago di bidang matematika, fisika, kimia. Di beberapa perlombaan cerdas cermat juga aku bisa paling cepat menjawab karena dapat menghitung dengan cepat setiap pertanyaan.

Aku tumbuh menjadi anak penurut, aku selalu takut untuk membuat ayah dan ibu sedih. Walaupun terkadang aku juga keras kepala sehingga membangkang apa kata mereka. Apalagi ketika aku kuliah, aku nekat pacaran dengan orang yang ibuku tidak suka. Tapi lama-lama aku tahu apa yang ibu rasakan itu adalah insting seorang ibu terhadap anaknya, dan beberapa saat kemudian aku putus dengan meninggalkan luka yang cukup dalam (ceileh lebay deh hehee).

Ibu sangat protektif, beliau tidak mau anaknya sedih atau menangis karena orang lain. Aku pernah cerita pada ibu saat aku SMP ada temanku yang pintar tapi licik. Aku berteman cukup dekat dengannya. Aku pernah kesal dan cerita pada ibu, kenapa orang licik seperti dia bisa selalu beruntung dan mendapatkan apa yang dia mau, kan tidak adil, dia jahat sampai bisa melakukan segala cara. Waktu itu ibu bilang aku cerita sampai nangis (padahal aku lupa pernah nangis sambil cerita hal ini), dan sejak saat itu sampai sekarang, ibu benar-benar tidak suka sama temanku ini. Bahkan kalau aku bercerita tentang dia ke ibu, ibu selalu bilang “ngapain sih masih kontak sama dia?”, sangking beliau masih terngiang anaknya pernah nangis oleh anak ini. Aku juga pernah nangis ketika putus dengan pacar, memang sih aku agak lebay gitu nangisnya, sampai ibu sedih dan tidak suka dengan mantanku ini, karena menurutnya dia jahat sudah membuat anak ibu menangis. Padahal aku tidak menceritakan secara detail, tapi tergambar olehnya apa yang diperbuat oleh mantanku ini benar-benar membuatku sakit, jadi sampai saat ini pun ibu membenci mantanku.

Aku benar-benar dekat dengan ibu, segala hal aku ceritakan, bahkan sampai hal kecil aku membeli ikat rambut pun kuceritakan. Namun sejak kejadian itu aku sadar, tidak semua bisa kuceritakan pada ibu. Apa yang membuatku sedih tidak perlu aku ceritakan ke ibu, kecuali aku sudah benar-benar tidak kuat baru aku ceritakan padanya. Hal-hal kecil seperti keluhan tidak perlu aku ceritakan, karena akan menjadi beban pikirannya. Apalagi semenjak ayah dan ibu hanya berdua di rumah, aku ingin memastikan bahwa disini anak-anaknya baik-baik saja dan mereka tidak perlu khawatir. Apalagi mereka cukup sering menengok kami, bisa 1-3 bulan sekali.

Ibu saat ini usianya berada di kepala 5. Sudah banyak keluhan-keluhan yang muncul, darah tinggi, kaku dan kesemutan, sakit kaki. Begitu juga ayah, sudah pernah TIA (transient ischemic attack atau awamnya disebut stroke ringan) 2x, kolesterol tinggi, hipertensi, namun mobilitas mereka masih tinggi, demi membiayai anak-anaknya. Memasukkan anaknya ke fakultas kedokteran artinya mewakafkan anaknya di jalan kemanusiaan. Aku sendiri belum tahu kapan bisa membahagiakan mereka di dunia, kuliah belum lulus, setelah lulus juga belum tentu bisa langsung bekerja, karena jadi dokter dituntut untuk mengabdi, internship 1 tahun dengan gaji 1,2juta per bulan, belum lagi menunggu internship beberapa bulan kosong. Rasanya kalau aku bukan di kedokteran, mungkin aku sudah bekerja dengan gaji sekitar 10 juta kalau aku lulusan teknik. Aku sudah bisa hidup sendiri atau bahkan membiayai adikku kuliah, sehingga ayah ibu tidak memiliki beban banyak. Walaupun jabatan ayah di instansi pemerintahan cukup tinggi, aku tidak pernah menikmati uangnya sebanyak anak lain yang ayahnya memiliki jabatan yang sama. Aku tidak punya mobil, tidak ke luar negeri setiap liburan, tidak selalu makan di tempat mewah dan mahal. Aku diajarkan untuk sederhana tapi cukup. Cukup untuk sekolah, cukup untuk makan, cukup untuk bergaul, namun tidak berlebih.

Dan kembali lagi, apa yang bisa aku perbuat untuk ibu (dan ayah)? Ingin rasanya aku cepat lulus menjadi dokter saat mendengar ayah terkena stroke ringan lagi beberapa waktu yang lalu. ingin rasanya aku ada disana dan langsung menangani ayah. Ingin rasanya tinggal dengan mereka dan mengurus mereka sehingga mereka bisa hidup sehat dan terrawat. Kini mereka tinggal hanya berdua, mereka menelepon kami anak-anaknya secara berkala, dan mengunjungi kami untuk sekedar makan enak dan menginap di hotel untuk hiburan kami semasa kuliah di akhir minggu. Kasih sayangnya tidak pernah putus sampai saat ini. Contoh baiknya selalu terngiang di otak kami, anak-anaknya, sehingga kami tidak ragu untuk sekedar bersedekah, menjadi sukarelawan, atau membantu dalam membangun sesuatu dengan uang ayah. Ayah dan ibu membiayai beberapa anak, yang ijazahnya masih ditangguhkan karena bertahun-tahun belum bayar SPP, memiliki anak asuh, membangun masjid, mendanai beberapa kegiatan sosial. Karena untuk ayah, rejekinya sebagian untuk keluarga dan sebagian untuk yang membutuhkan. Ayah dan ibu contoh orangtua yang berhasil, diluar kekurangannya sebagai manusia, mereka patut menjadi teladan untuk bisa bermanfaat bagi sekitar, peka terhadap lingkungan, dan mengamalkan segala perintah agama sebisa mungkin yang mereka bisa, memperhatikan kepentingan orang lain, dan jarang sekali mengecewakan orang-orang di sekitarnya.

Semoga kami anak-anaknya bisa menyerap indirect lesson dari mereka, bahkan lebih baik lagi.. Semoga kami bisa selalu berbakti untuk mereka, dan semoga doa kami menjadi bekal dan syafaat bagi mereka di akhirat nanti.

            Allahummaghfirli waliwaalidayya warhamhumaa kamaa robbayaani saghiraa..

Rabu, 09 Desember 2009

Gara2 belum tidur, jadi pikiran kemana mana

00.58, kayanya jadi kebiasa tidur dini hari gara2 belajar ujian. Lagi keingetan ayah sama ibu. Lebay banget tapi, biasanya juga jauh dari ayah ibu, aku di nangor dan ibu ayah di lampung. Sekarang juga sama2 jauh, tapi lebih jauh dan gak kejangkau sama aku, jadi lebih was2 dan cemas aja (padahal mah belum tentu si ibu sama ayah cemas mikirin aku juga! Hehee).

Jadi inget, sebelum berangkat aku nitip doa sama ibu, aku menyerahkan satu halaman penuh permintaan doa supaya dibacain nanti sama ibu pas nyampe tanah suci. Doanya aku ketik lohh. (Hehee, trus kenapa?). Aku menulis 7 poin disitu, minta doa buat aku sendiri, ayah ibuku, dan keluargaku. Aku inget, doa yang paling panjang itu ada di poin jodoh! Hahaa. Segitu aja masih direvisi lagi sama bibi Widya yang ngebaca doa itu sebelum dikasih ke si ibu. Dasar si bibi! :p

Tapi ditinggal ibu sama ayah jauh gini, otakku jadi makin mature, kenapa? Karena aku jadi mikir yang aneh2, gimana kalo ternyata ayah sama ibu ga balik lagi? Jujur, aku sendiri masih bingung kalo hal itu terjadi. Men, aku udah 20tahun, tapi kalo aku disuruh tegak sendiri tanpa ada backingan ayah sama ibu, aku ga yakin bisa maju! Kalo mereka ga ada, kan aku yang ngurusin si adek, ngurusin rumah, ngurusin kuliahku sendiri. Huhuuu. Kalo masih fisik, masih kuat lah, tapi soal mental sama pikiran, belum bisa. Kelihatan banget aku masih kecil dan rapuh, masih jadi tulang cartilage, belum jadi osteon seutuhnya. Aku emang mandiri, udah jauh dari orangtua sejak di IC, which means hampir 6tahun yang lalu. Tapi ternyata itu gak membuat aku tegak seutuhnya. Apa2 masih nelpon ibu, sampe hal yang kecil sekalipun. Wah, belum siap lah kalo disuruh nikah sekarang! Loh? Kok nyambung kesitu? Tapi iya juga, makanya jarang yang nikah pas kuliah salah satu alasannya ya itu, maturity. Kalo soal ngurus rumah sih gampang, masak gampang, bebersih rumah cetek, bayar ini itu gampil, tapi yang lain? (yang lain itu apa yah? Hehee.)

Aku pernah bilang sama ibu, “bu, ntar firsa nikahnya sebelum 26 ya bu, sebelum si ayah pensiun”, dan ibu berkata, “ya tergantung, kapan aja jodohnya datang”. Nah lo? Kalo jodohnya dateng sekarang, berarti boleh dong? Hahaa. Minta dipecat jadi anak ni anak (mungkin gitu kali ya dipikiran ayah! Hehee). Pasti orangtua maunya anaknya jadi “orang” dulu, baru dipinang sama orang lain, dan aku sendiri pun gitu, meskipun pas koas udah ada gelar sarjana, uda jadi “setengah orang”, tp aku belum mau, tapi wallahualam, liat aja nanti gimana. Doain aja ya dapet yang terbaik dan dapet dokter yang baik.. 

Kembali ke ayah dan ibu, tapi beneran, 28 hari itu berasa lama banget nget nget! Ini baru 2minggu, tapi kayaknya udah berapa bulan gitu! Gitu ya kalo udah cinta, kalo ga ketemu sehari aja bagai sebulan, seminggu bagai setahun, sebulan bagai seabad! Hmm, sebenernya yang dikangenin itu oleh2nya! Hehee. Dapet air zamzam yang berkah sama kurma isi almond favorit. Udah kok cukup itu aja! Hihihiii.
Oia, beberapa hari yang lalu dapet kabar si ibu flu, heuu. Semoga hari ini ibu udah sembuh, sehat walafiat dan bisa ibadah lagi sampai puas. Mumpung ada disana kan, harus dimanfaatin sebaik-baiknya.. :D

Ibu, ayah, firsa sama alwan kangen banget. Hati-hati ya bu disana, doain kita supaya selalu jadi anak soleh dan solehah dan selalu berbakti sama Allah, ibu, dan ayah.

kiss dari kita *cups*

Minggu, 26 Oktober 2008

kakekku sakit..

kakekku sakit, tensinya sampe 200/120. gilee... aku juga ga tau tuh kenapa.! mungkin karna emang uda tua ditambah dia stress karna kesepian di rumah kali yaa..hm,,, dan barusan ini, secara tiba2 tadi malam aku, bibiw, iyang, dan om syarif mendadak pergi ke sukabumi untuk menengok. jadilah kita buat kejutan!! tararaaaaaa, dan org2 rumah ga nyangka sama sekali kita bakal ada disana dalam jangka waktu 3 jam! (sebelumnya kta ada di bandung dan baru ajah nelpon kakek buat nanyain gimamna kabar kakek)

heuuu, bisa dilihat betapa senangna kakek waktu kita datang!! ternyata memang benar, faktor kesepian mendukung cepatnya pertumbuhan hipertensi ituh! terbukti setelah kta berkunjung, kakek wajahnya sumringah, trus katanya sakitnya berkurang..

oia ada satu lagi, katanya ada penggumpalan darah dimana ya aku lupa, kayanya di otak. kayanya ada emboli karna hemorrhagia deh, tapi itu baru emeriksan secara tradisional, belum sempet ct scan, tapi smoga ajah ga...

buat temen2, minta doanya yah biar kakekku cepet sembuhh! aku pengen si kakek bisa ngeliat aku jadi dokter ntar.! masalahnya g pgn banget aku jadi dokter tuh kakek aku dari pihak ayah dan ibu, yg dari ayah udah meninggal waktu aku kelas 3 akhir sma, nah aku pengen yang satu lagi ngeliat apa yg dipengenin kakek aku.. ngeliat cucunya jadi dokter. soalnya yg satu uda ga bisa lagi ngeliat aku jadi dokter.heuheuuu,./

Ya Allah tolong berikan yang terbaik buat kakek yahh... ^^

Senin, 18 Agustus 2008

.S.E.U.M.A.N.G.A.T.

TO MY LITTLE BROTHER,,

adikku sayang,
awali harimu dengan B.I.S.M.I.L.L.A.H
dan kerjakan ujianmu dengan S.E.M.A.N.G.A.T
inget aja,
walopun ini bukan ujian yang sebenernya,
dan wang pasti sebagian mikir ujian ini cuma buat lulus dari sekolah,
wang teteup harus bener ngerjainnya.

adikku sayang,
walopun ini judulnya “UJIAN”
tapi jangan dibawa pikiran sampai stress.
jangan sampai sakit lagi yah.
inget ajah,
Allah akan slalu bantu kita kok kalo kitanya usaha.

jadi, teuteup SMANGAT ya dek!!

Kamis, 31 Januari 2008

buat kue,,


Hhe. (gw ktawa dlu sblmn crita ya!)

bgini,,,smalem si nenek mau buat cake marmer ceritanya,,trus pas aku liat ke dapur, udah ada 2 kurcaci yg lagi bantuin nenek lengkap dengan celemeknya! padahal si koki asli (nenek) aja ga pake clemek! hhe.

trus, pas liat batang idung gw muncul, tu kurcaci 2 langsung ngambil clemek satu lagi n lgsg makein ke gw. yah gw pasrah aja dh,, padahal gw ga niat bantuin tuh! hhe.
15 menit kmudian, datanglah kurcaci ke3, si aci, sambil berkata, "aku juga mau bantuin!! aku mau pake celemek!" 2 kurcaci sbelumnya brkata, "ih aci, cowo mah ga boleh! udah sana main diner dash aja!" tapi si aci tetep merajuk, dan akhirnya dng senang hati gw buka clemek gw n gw pakein k aci.

sumpah, lucu banget ngliatin mreka b3 kerja! si nenek bukannya trbantu malah kerepotan. soalnya mereka rebutan buat ngebantuin si nenek. padahal uda dikasih tugas satu-satu, tetep ajah berantem! heuheu dasar anak2!

dan akhirnya kuenya jadi!enak banget loh,, nyamnyam...mreka ber3 bangga banget dng hasil usaha jerih payah keringat mreka! (hhi. lebay abis ni gw) tapi benerb lo, mreka akhirnya makan bareng2 lalu tidur,, (kecapekan dh kyanya,,)
hha. sungguh spupu2 gw yg lucu!

Selasa, 15 Januari 2008

Tour to Singapore part#1

Tau gak sih, tanggal 24-27 desember taun lalu (hha. Padahal taun lalu tuh baru 10 hari, tapi kesannya udah lama gtu), aku (sebenernya ber-5 sama ayah, ibu, adek, n iyang) kan natalan di singapur,, hhe. Natalan?! Sebenarnya sih aku gak ngerayain natalnya, Cuma jalan-jalan pas lagi suasana natal. Nih, aku mau sedikit berbagi gimana rasanya natalan di negeri singa itu.

Aku berangkat kesana tanggal 24 pagi jam 8 naik pesawat adam air (nyebutin merk! Tp gpp lah! J ) sampai batam, terus dilanjutin naik kapal laut nyeberang kesananya. Trus naik taksi deh ke hotelnya. Kalo ga salah nama hotelnya hotel Rendezvous, letaknya di jalan Bras Basah. Huah, untungnya hotelnya di tengah kota! Strategis bo! Kemana-mana gampang! Jadi tuh, pas nyampe hotel trus nyimpen barang-barang, kita langsung cau ke orchard road, naik MRT (mass rapid transportation) yang super cepet! Dasar gaptek ya, pas nyampe stasiun tu, kita tuh bingung2 gtu apa yang harus kita lakukan? Trus akhirnya ada petugas yang baik hati memberi tau langkah2 dan cara menggunakan mesin penjual tiket. Dan akhirnya kita ke orchard!

Di Orchard, kita Cuma nemenin si ibu liat-liat barang yang super duper mahal, berpetualang dari satu mall ke mall lain, dari wisma Atria ke Takashimaya Nge Ann City, trus Shaw House. Masih ada banyak mall lagi yang belum sempet kita kunjungin tuh, kaya mall Paragon n Lucky Plaza (heran deh, padahal semua mall tu isinya sama, barang-barang dengan merk-merk yang sama dan berada di sepanjang jalan Orchard. Haduh, pemborosan tempat..). Yah, kita Cuma ngliatin aja, kalo kata orang sunda mah jalan teu pararuguh. Tapi kalo si ibu mah tampaknya sangat menikmati barang-barang perlente itu, meskipun ga beli satu barang-barang pun karna harganya emang bener-bener bikin orang mati tercekik! (hhe. Lebay)

Ga kerasa, pas keluar dari bangunan, waktu di jam tangan mnunjukkan jam 7 malam waktu Singapur, tapi langit tuh masi kaya jam 5 waktu Indonesia. Nah, jadilah kita mengira-ngira kalo magribnya mungkin jam 8 ato setengah 9an. Oia, disana ada tukang eskrim 1dolar. Kalo di convert ke rupiah, jumlahnya jadi 6500. Murah, gde, enak lagi.hhe, mungkin karena capek kali ya jadi krasa fresh gtu.

Setelah makan di McD Shaw House (ga da makanan lain yg meyakinkan selain McD), akhirnya kita pulang. Itu sekitar jam 10an kita mau pulang ke hotel ceritanya, jalan Orchard tuh rameeeee banget! Ya ampun bener2 ngalahin rame-nya ngantri naik kapal laut pas lagi mudik! Padahal trotoarnya luas loh, tapi tetep aja mpet-mpetan jalannya. Nah, di tengah keramaian malam natal itu, aku iseng-iseng ngomong ke ibuku dengan suara yang agak keras, “Mom, selamat NATAL yaa!!” Kontan ajah orang-orang nengok ke sumber suara, alias aku dan mereka pada bingung gitu ngeliat yang ngomong ternyata cewe yang make jilbab! Ahaha. Aku Cuma ktawa2 aja menikmati tatapan orang-orang.

Besoknya kita pergi ke Little India, Bugis, Chinatown, Rafless place, n jalan-jalan di sekitar hotel. Di Little India beli oleh-oleh yang murah2, di Bugis aku dapet sepatu yang lucu banget. Akhirnya aku sama iyang beli, harganya Cuma 20 dollar. Murah bo! Di Raffless kita ke Merlion park, ngliatin singa yang lagi nyemburin air yang lagi-lagi dikerumunin banak orang. Selain Merlion, ada park yang luas, teduh, pokoknya pas dah buat refreshing! (buat orang pacaran juga itu tempat yang cocok banget.hhe) ada juga gedung mirip landak disana, katanya itu gedung opera (kayak yang ada di Sidney Australia). Di deket situ juga ada 2 jembatan bersejarah peninggalan Raffless, namanya jembatan caverdegh dan Anderson. Disana, lagi-lagi kita makan es krim! (es krim udah jadi makanan pokok dah!)

Tanggal 26, aku disuruh balik lagi ke Mustafa center buat beli oleh2 payung yang kemaren lupa dibeli, sedangkan yang lain jalan-jalan ke Sentosa. (heuheu.diskriminasi). Tapi gapapa sih, soalnya d sentosa toh menurut aku ga ada apa-apanya sama Indonesia. Soalnya pas diliat-liat di TV, Sentosa tuh kayanya lebih cocok buat anak kecil deh. (sok gede banget sih gw).

hm, kayanya sgini sulu deh postingan blog part 1nya. ntar disambung lagee,,